Raja Jalanan, itu istilah saya sendiri, untuk menyebut pengendara yang merasa dirinya adalah Raja Jalanan. Anda pun pasti mengerti apa yang saya maksudkan disini. Ya, pengendara tersebut merasa bahwa dengan kemampuannya dapat melewati kerumunan pengendara lain, melaju kencang mendahului dalam celah yang sempit, meliuk-liuk licin bagai belut menghindari kendaraan di depannya dengan tujuan yang tidak jelas, bertingkah seperti pembalap di jalan raya, padahal tidak ada perlombaan, tidak ada pemenang, tidak ada hadiah, yang ada hanya membahayakan orang lain.
Mari kita diskusikan, adakah yang mengerti tujuan dari pengendara seperti itu?
Saya berpendapat, hampir tidak ada manfaat positif yang didapat, selain kesenangan dan kepuasan diri sendiri (pengendara) karena dapat menjadi yang tercepat, menjadi yang terdepan, tidak ada yang mengimbanginya, dan sebagainya. Lalu timbul pertanyaan, kalau si Raja Jalanan sudah merasa 'menang', lalu apa? Apa yang akan dilakukan selanjutnya? Apakah ada yang menyanjungnya dengan perkataan 'wah, hebat kamu brooo'?? Apakah dia sudah hebat?? Tidak, jawabku...
Lalu apa yang diakibatkan oleh si Raja Jalanan? Pengendara motor lain pasti akan kaget dengan liukan-liukannya, dan mau tidak mau harus mengalah. Pengendara motor lain yang tidak tahu apa-apa, beresiko disenggol, entah ban depan atau ban belakang. Pengendara Raja Jalanan pasti akan merusak keharmonisan lintasan jalan raya, kenyamanan yang telah dibangun antar pengendara untuk saling menghormati. Raja Jalanan datang, dia merusak, dan pengendara lain turut menanggung resiko akibat ulahnya, itukah jalanan yang seharusnya milik bersama? Selain hal kesenangan, mungkin ada yang beralasan bahwa sedang terburu-buru, entah diburu waktu, atau diburu hujan. Tapi apakah mereka sadar telah memperbesar resiko terjadinya kecelakaan?? Sepenting apapun urusannya, separah apapun buru-burunya, hendaknya tetap kalem di jalan.
Sebetulnya, apakah sifat seperti itu tidak diperbolehkan??
Menurut pandangan saya, tindakan seperti itu sah-sah saja, asalkan sesuai dengan situasi, kondisi, dan tempat tentunya. Saya jadi teringat perkataan teman, 'Lho, wajar dong, kan pas ujian SIM aja ada rintangan buat meliuk-liuk...', kontan aja saya ketawa. Ujian SIM itu dibuat seperti itu, tujuannya adalah menguji kemampuan kita mengendalikan motor. Para Raja Jalanan sepertinya menganggap dirinya adalah pembalap (bukan PEMuda berBAdan geLAP), terinspirasi dari balapan motoGP, roadrace, dan lain-lain. Karena tidak bisa merasakan pengalaman di sirkuit, jalan raya pun dijadikan sirkuit dadakan.
Pengandara lain dianggap sebagai lawan,
lampu lalu lintas berwarna hijau dianggap sebagai lampu start balapan,
berebut untuk saling mendahului,
tapi adakah garis finishnya??
lampu lalu lintas berwarna hijau dianggap sebagai lampu start balapan,
berebut untuk saling mendahului,
tapi adakah garis finishnya??
Mari, sebagai makhluk yang bermoral, dan hanya memiliki satu nyawa, pergunakanlah kendaraan dan fasilitas jalan raya dengan bijak, kendalikan ego, besarkan toleransi, murahkan kesabaran. Apabila kita menemui pengendara Raja Jalanan, lebih baik kita mengalah, biarkan dia mendahului, JANGAN DITANGGAPI, malah membuat kita rugi. Jagalah jarak aman, bersiaplah untuk yang terburuk, dan tetap waspadai Raja Jalanan...
Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan.hehe... saya hanya ingin menyampaikan,
UTAMAKAN KESELAMATAN
Sabar di jalan, damai di hati
***

0 Responses to Waspada, ada Raja Jalanan..!!!